Genre : sad romance (?)
Lenght : Twoshoot
PG : 15+
Yeah….*lompat-lompat kegirangan* monyet kali…hihiihhi… Akhirnya, selesai juga next part’nya.
Karena ini twoshoot jadi part ini udah endingnya yaa…
HAPPY READING
——> unek-unek mengenai FF ini jangan lupa di tinggalkan yaa…
Gomawo………
part sebelumnya : Yonghwa yang keiko pikir seumuran dengannya dan merupakan murid baru ternyata adalah pelatih pengganti tim basket mereka.
Ketika pertandingan berlangsung dan keiko hendak memasukan bola, tiba-tiba keiko pingsan. Apa yang sebenarnya terjadi pada keiko?
Ini jawabannya……..
”Dimana aku?”
”Kau sudah siuman?Kau ada di rumah sakit”kata yonghwa yang duduk di samping tempat tidurku.
”Mwo? Rumah sakit? Kenapa aku bisa di sini? Aku seharusnya bertanding sekarang. Palli,Oppa… Kita harus pergi” kataku kaget lalu berusaha bangun dan mencoba melepaskan selang infus yang melekat di tanganku.
”Apa yang kau lakukan? Kau harus istirahat”kata yonghwa lalu menahan tindakanku mencabut selang infus dan menyuruhku berbaring kembali.
”Tapi, Oppa..aku harus pergi sekarang”protesku.
”Kau tenanglah. Tidak ada gunanya kau pergi dengan keadaan seperti ini. Kau harus istirahat”
”Tapi bagaimana dengan pertandingannya?”kataku dengan nada kecewa.
”tidak perlu kau pikirkan. Hwayoung dan lainnya pasti bisa menanganinya. Yang terpenting sekarang kau istirahat biar cepat sembuh. Aku sudah menghubungi orang tuamu. sebentar lagi mereka tiba”jelas yonghwa sambil memperbaiki letak selimutku.
”Ne. Gomawo,Opaa…”anggukku.
# # #
”Sayang…,apa kau baik-baik saja?” tanya ibuku dengan wajah khawatir.
”Ne,eomma…! Aku baik-baik saja! omma,tenang saja. aku tidak apa-apa”jelasku. Berharap bisa menghilangkan kekhawatiran ibuku.
”Baiklah kalau begitu. Appamu sebentar datang,ada bertemu dengan dokter. Apa kau ingin makan sesuatu,sayang? Nanti Omma,ambilkan”
”Aniya,omma. Aku belum lapar. Omma, perkenalkan pelatih basketku, Yonghwa oppa. oppa yang membawaku kesini ”kataku lalu memperkenalkan yonghwa pada ibuku.
”aigoo, kamsahamnida yonghwa-ssi..” kata ibuku sambil mengulurkan tangan menyalami yonghwa.
”chenmaneyo,ajumma”kata yonghwa lalu menyambut uluran tangan ibuku.” kalau begitu,aku pamit pulang dulu keiko-ssi,Ajumma…”lanjut yonghwa lagi sambil berdiri.
”Loh kenapa cepat pulang,yonghwa-ssi?”tanya ibuku kaget.
”aku ada urusan sedikit yang harus di selesaikan. Tapi,besok aku pasti datang kembali”jelas yonghwa.
”oh,begitu.baiklah. Sekali lagi kamsahamnida,yongha-ssi”kata ibuku sambil membungkukkan badannya.
”ne, Ajumma. Keiko-ssi,aku pulang dulu ya. istirahatlah,semoga cepat sembuh. Annyeong…”yonghwapun pergi.
# # #
Tok.tok.tok.
”annyeong haseyo….”terdengar sapaan seseorang.
”oh,kau datang hwayoung-ah.”sapa ibuku.
”ne,ajumma. Bagaimana kabarmu keiko-ah? Gwencanayo?”kata hwayoung lalu duduk tepat di samping tempat tidurku.
”aku baik-baik saja”jawabku tersenyum.’
”syukurlah. Aku benar-benar khawatir kau tiba-tiba pingsan tadi. Aku ingin ikut membawamu ke rumah sakit tapi pertandingan belum selesai.”kata hwayoung sedih.
”gwencana,hwayoung-ah. Bukankah sekarang aku sudah terlihat sehat?”hiburku.
”ne,aku pikir begitu”
”bagaimana pertandingannya?apa kita berhasil masuk final?”tanyaku penasaran.
”pertandingannya…..tim kitaa….”
”wae? Kita kalah ya….Mianhae,itu semua salahku.”
”siapa bilang kita kalah?”
”itu tadi…..mwo? Kita menang? Jinjja?”kataku histeris.
”ne,”jawab hwayoung ceria. Dan kamipun tertawa bahagia.
”aigoo,masih berapa banyak waktu untuk bisa terus melihatmu tertawa bahagia seperti ini”gumam ibuku lirih.
# # #
“Annyeong haseyo….,oh keiko-ssi, kau sudah mau pulang?”kata yonghwa ketika memasuki ruang perawatanku.
“Ne,Oppa. Hari ini aku sudah di isinkan pulang oleh dokter”jelasku sambil membereskan barang-barangku.
“oh,begitu. Apa kau akan pulang sendiri? Mana orang tuamu? Kenapa mereka tidak terlihat bersamamu?”
“Aniya. Aku pulang dengan Eomma. Tapi Eomma ada pergi membayar biaya perawatanku”
“terus, bagaimana dengan appamu?”
“Appa tidak bisa menjemputku untuk pulang karena ada tugas di kantor”
Kamipun terdiam dengan pikiran masing-masing. Lalu terlihat ibuku masuk.
“keiko-ah,apa semuanya sudah beres? Kalau sudah ayo kita pulang. Ibu sudah selesai membayar semua biayanya.” Kata ibuku lalu mengambil beberapa barang.
“aku bantu Ajjuma”kata yonghwa yang sontak membuat ibuku kaget dan berbalik.
“oh,yonghwa-ssi…kau datang? Eh,kamsahamnida atas bantuannya”kata ibuku seraya melepaskan barang-barang itu dan diambil alih oleh yonghwa.
“ne,Ajumma. Kajja, kita pulang. Aku akan mengantar Ajjuma dan keiko ke rumah.”kata yonghwa lalu berjalan menuju pintu.
“Ani,Oppa.aku dan eomma bisa pulang naik taksi”tolakku merasa keberatan atas perlakuan yonghwa.
“gwencana,keiko-ssi. Aku sudah datang jadi kenapa tidak sekalian aku mengantar kalian pulang” jelas yonghwa sambil memperlihatkan senyumnya.
DEG…….Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi seperti ini?ada apa dengan jantungku? Kenapa dengan jantungku berdegup kencang seperti ini? Ku akui senyum yonghwa oppa memang menawan.
“Gomawo”kataku dan ibuku berbarengan.
# # #
In home…..
Saat ini, kami bertiga sedang santai duduk menikmati kebersamaan. Aku,ayahku dan ibuku. Aku menikmati saat-saat seperti ini karena aku tahu waktu seperti ini mungkin tidak akan lagi aku rasakan.
“Keiko-ah…….”panggil ayahku pelan.
“Ne,Appa..Waeyo?”
“Appa ingin memohon sesuatu padamu, bolehkah?” kata ayahku dengan wajah serius.
“Aku tahu apa yang ingin katakan padaku. Aku baik-baik saja Appa. Aku bahagia dengan keadaanku seperti ini. Appa dan Eomma jangan terlalu khawatir.”jelasku dengan penuh keyakinan.
“Tapi Appa tidak ingin kau terlalu capek dan menjadi sakit seperti saat ini. Kami menyayangimu dan kami tidak ingin sesuatu terjadi padamu” jelas Appa lagi dan diikuti anggukan kepala oleh ibuku.
“Appa Eomma. Aku juga menyayangi kalian. Aku tidak ingin membuat kalian sedih. Tapi aku tak ingin karena sakitku ini aku tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Aku tidak ingin orang-orang melihatku sakit dan mengasihaniku.”jelasku dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi sayang….”kata ibuku dengan meneteskan air mata.
“Eomma, aku pasti baik-baik saja. Aku tahu waktuku tidak banyak tapi aku tidak ingin waktu yang singkat itu hanya terbuang begitu saja. Tidak aku gunakan untuk membuat sesuatu yang berarti. Aku tidak ingin orang-orang yang aku sayangi sedih melihat keadaanku. Jadi, Appa Eomma, aku mohon…biarkan aku tetap seperti biasa.”tangisku pun tumpah tak terbendung. Ibukupun lalu menarikku dalam pelukannya.
Aku berusaha terlihat tegar tapi tetap aku rapuh. Walaupun aku sudah bisa menerima keadaan sakitku yang seperti ini tapi berpikir akan meninggalkan orang-orang yang ku sayangi membuatku sedih. Andaikan aku bisa tetap tinggal dan bersama kalian…..
“Baiklah,Appa dan Eomma tak akan melarangmu. Kau harus bahagia sayang….”kata ayahku lalu memeluk kami berdua.
# # #
“Kyaa,Keiko-ah………”
Terdengar teriakan hwayoung yang menyambutku ketika memasuki kelas. Benar-benar hwayoung, tiada hari tanpa berteriak.
“Yak,Hwayoung-ah….kau membuatku tuli dengan teriakan mautmu itu?”kataku pura-pura marah.
Tanpa menghiraukan kata-kataku, hwayoung berlari kearahku dan memelukku bahagia.
“Akhirnya kau masuk sekolah juga. Aku merindukanmu” katanya ceria lalu melepaskan pelukanku dan mengikutiku menuju kursi tempatku duduk.
“Bukannya kita baru bertemu kemarin?”
“Emang sih tapi aku tetap merindukanmu”
“Ne..Ne…,aku juga merindukanmu”kataku tersenyum.
# # #
Teng..Teng…Teng…
Terdengar bunyi lonceng yang menandakan waktunya untuk pulang. Terlihat teman-teman kelasku berhamburan menuju pintu kelas untuk pulang. Akupun tidak ketinggalan segera membereskan perlengkapan belajarku dan bangkit berdiri untuk keluar.
“Kajja…., kita menuju ruang latihan.”kataku pada hwayoung.
“Cie..cie yang tidak sabaran bertemu pujaan hati”ledek hwayoung.
“Mwo? Jangan bicara sembarangan” jitakanpun mendarat mulus dikepala hwayoung.
“Aiissh, Appo… tapi benarkan kamu ada hati ma pelatih pengganti kita itu?”
“Ani…itu tidak mungkin”bantahku lalu berlalu meninggalkan hwayoung menuju ruangan latihan.
Hwayoung berlari mengejarku dengan terus meledekku.
“Kalau emang gak, kenapa menghindar begitu? Lagian wajahmu terlihat memerah seperti itu. Ayolah keiko-ah, ngaku deh… benarkan?”
“Apa sih…? Daripada kamu sibuk berpikir yang aneh-aneh mending cepat karena kita akan terlambat untuk latihan.” Kataku sambil berbalik menatapnya tajam lalu berlalu pergi.
Benarkah yang dikatakan hwayoung kalau kau suka ma yonghwa oppa? Masa iya? Ah,molla…apa sih yang aku pikirkan?
# # #
1 minggu kemudian, pertandingan final basket…
“Baiklah. Ini dia yhari yang kita tunggu-tunggu. Aku harap kalian memberikan semua ketrampilan dan kekuatan yang kalian miliki pada pertandingan ini. Kalah ataupun menang bukan masalah yang penting kalian telah berusaha memberikan yang terbaik. Okay… apa kalian mengerti?”kata pelatih atau yonghwa memberikan semangat pada tim basket sekolahku.
“Ne, pelatih…”jawab kami serempak.
“Ok kalo begitu. Semuanya Hwaiting…..”teriak yonghwa lagi.
“Hwaiting…..”
“Baiklah, sekarang masuk ke dalam lapangan. Kalian pasti bisa”
Setelah bertos-tosan bersama tim, kamipun berjalan menuju lapangan. Walaupun aku sering mengikuti pertandingan seperti ini. Tapi aku tetap saja merasa gugup dan takut. Berharap selama pertandingan ini aku bisa memberikan pertandingan yang terbaik karena mungkin ini pertandingan terakhirku.
“Tuhan,Ku mohon, jangan kambuh sekarang penyakitku…”batinku.
“Ada apa keiko-ah? Apa kau tegang?”Tanya hwayoung sambil menepuk pundakku pelan. Lamunankupun buyar seketika.
“Hehehe, sedikit”jawabku nyengir.
“Aku juga tegang. Tapi hwaiting… Kita pasti bisa”kata hwayoung sambil mengepalkan tangannya.
“Ne…Hwaiting…..”kataku semangat.
# # #
Note : Mian….author kagak ngerti tentang basket jadi gak jelasin tentang jalannya pertandingan secara rinci.
“Baiklah, poin kita sekarang 57-56. Waktu yang tersisa tinggal 1
menit. Kita harus berusaha yang terbaik untuk menambah poin. Kerahkan
semua kemampuan yang kita miliki. Kita pasti bisa. Hwaiting….”kataku
member semangat pada teman-teman timku pada saat time out.“Ne,Hwaiting…”kata mereka serempak.
Priiiit…..
Terdengar peluit di tiup. Kamipun kembali masuk lapangan dengan harapan bisa berusaha menjadi pemenang dengan kemampuan yang kami miliki.
Bola kini berada di tanganku. Dengan segala upaya aku berusaha menghindar dari lawan menuju keranjang bola di depan. Tapi tiba-tiba ku kembali merasakan sakit pada kepalaku.
Dejavu….
Keadaan yang dulu ku alami kembali lagi. Perasaan sakit ini terus menyiksa. Aku berusaha sekuat tenaga untuk terus berlari. Ku lihat teman-teman timku bersorak menyemangatiku, hwayoung yang tersenyum padaku, yonghwa oppa yang berteriak memberiku semangat. “Tolong aku Tuhan, kali ini biarkan aku untuk bisa membahagiakan mereka”batinku.
Dengan melupakan sakit yang begitu menyiksa aku berlari menuju keranjang itu. Waktu terus berputar. Waktuku memasukkan bola tinggal beberapa detik sebelum peluit tanda pertandingan selesai di bunyikan. Aku berusaha sekuat mungkin dan akupun melempar bola.
Bola itu masuk dengan sukses dan bunyi peluitpun terdengar. Pertandingan usai. Terdengar teriakan sorak-sorai dari teman-temanku. Aku tersenyum dan semuanya berubah gelap.
# # #
3 hari kemudian….
Ku buka mataku dengan susah payah. Ku ingin berucap tapi lidahku serasa keluh. Ku edarkan pandangan ke seluruh ruangan. Terlihat ibuku yang tertidur dengan kepala berbantal pada tempat tidurku. Ayahku yang tertidur dengan posisi duduk di sofa. Dan seseorang yang sangat ku kenal, yonghwa oppa. Apa yang dia lakukan? Apa selama ini dia terus menungguiku?
Tanpa terasa air mataku menetes. Aku sedih dengan keadaan ini. Apa mereka akan bahagia bila nanti saatnya tiba akan aku tinggalkan. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?. Andai aku bisa untuk tetap tinggal bersama mereka yang ku sayangi.
“Kau sudah sadar,sayang…? Tanya ibuku dengan wajah sedih.
Air mata sekilas terlihat menetes dari sudut matanya tapi dengan cepat ibuku menghapusnya. Aku berusaha tersenyum walaupun berat. Berharap dengan senyum itu bisa membuat ibuku tenang.
“Apa yang kau butuhkan,sayang? Apa kau haus? Eomma,akan mengambilkannya untukmu”Tanya ibuku lagi dan hanya aku jawab dengan anggukan kepala.
# # #
Setelah beberapa hari, akhirnya berbagai alat-alat yang melekat di tubuhkan satu persatu di lepaskan. Aku merasa lebih baik walaupun tidak sepenuhnya.
“Dok, bagaimana keadaan anakku? Apa dia baik-baik saja?” Terdengar suara ayahku bertanya pada dokter.
“Aku tidak bisa mengatakan kalau keadaan anak bapak baik-baik saja. Hanya saja dia bisa bertahan sampaisejauh ini sudah merupakan mujizat. Yang aku bisa katakan bapak dan keluarga siap untuk semua konsekuensi yang ada. Bapak perlu bangga. Anak bapak sangat kuat dan tabah.”
“Makasih dokter” kata ayahku sedih.
“Kalau begitu aku permisi pak..” dokterpun berlalu meninggalkan ruanganku.
Aku buka mataku perlahan. Ku lihat ayahku terduduk sedih di sudut sofa. Ibuku terus meneteskan air mata di samping tempat tidurku.
“Appa..Eomma..’panggilku pelan.
“Iya,sayang..”kata ayah dan ibuku bersamaan lalu mendekat padaku.
‘Aku ingin pulang ke rumah. Aku bosan disini terus.”pintaku.
“Tapi sayang….”protes ayahku.
“Appa…Eomma…, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin pulang”pintaku lagi dengan wajah memohon.
“Baiklah”angguk ayahku.
“Gomawo, Appa. Saranghae Appa,Eomma”kataku seraya memeluk mereka.
# # #
“Kau Yakin akan ikut acara ini?”Tanya hwayoung khawatir.
Tim basket sekolahku mengadakan acara jalan-jalan bersama ke tempat hiburan untuk merayakan keberhasilan kami memenangkan pertandingan. Dengan susah payah membujuk ayah dan ibuku akhirnya aku di berikan ijin mengikutinya dengan syarat hwayoung dan yonghwa oppa yang akan menjagaku selama mengikuti kegiatan itu.
“Ne….”anggukku.
“Baiklah…’kata hwayoung enggan.
“Gomawo,hwayoung-ah…”Kataku lalu memeluknya.
Hwayoung membalas pelukanku erat. Terdengar isakan tertahan darinya.
“Jangan sedih. Aku baik-baik saja. Saranghae hwayoung-ah…kau sahabat terbaikku”kataku sedih sambil berusaha menenangkannya.
“Nado….kau juga sahabat terbaikku”
“Ya,sudah..hapus air matamu. Sebentar lagi yonghwa oppa menjemput kita. Kau terlihat jelek seperti itu”kataku berusaha melucu. Sontak membuat pukulan kecil mendarat di lenganku.
# # #
Karena merasa begitu lelah, aku memilih untuk istirahat. Hwayoung bersama teman-teman yang lain lanjut bermain sedangkan aku di temani oleh yonghwa oppa.
‘Oppa…..”
“Wae..? kau mau minum? Nanti oppa belikan”kata yonghwa seraya bangkit.
“Ani,oppa..aku tidak haus”gelengku.
“Lalu..? apa yang kau inginkan? Bilang saja, nanti oppa ambilkan” aku hanya menggeleng.
“Oppa…,Gomawo”
“Buat apa?”Tanya yonghwa bingung.
“Buat semuanya. Buat semua yang oppa lakukan buatku. Gomawo…” ucapku tulus.
Tiba-tiba aku kembali merasakan sakit di kepalaku. Aku berusaha menahannya. “Jika ini sudah waktunya, aku pasrah Tuhan”Batinku.
“Keiko-ah…gwencana?” Tanya yonghwa panic melihat wajahku yang pucat dengan keringat yang bercucuran.
“Ne,oppa. Gwencana…”anggukku pelan.
Yonghwa lalu menarikku dalam pelukannya. Dalam keadaan sakit seperti inipun aku masih bisa merasakan betapa hangatnya pelukan ini. Aku menyukai orang ini,Tuhan. Batinku sedih.
“Keiko-ah..,walaupun mungkin semua ini terlambat atau buatmu tak ada artinya. Itu tidak masalah buatku. Aku bahagia mengenalmu. Gomawo,keiko-ah…Saranghae…..”
Tangisku pun pecah mendengar pengakuan itu. Aku tidak menyangka kalau ternyata yonghwa oppa menyukaiku juga.
“Nado Saranghae,Oppa…..”ucapku di sela tangisku.
Terima kasih,Tuhan. Di saat terakhirku Engkau memberiku kado istimewa. Andaikan aku bisa, aku ingin tetap bersamamu seperti ini selamanya…..
THE END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar